Cara Menulis True Story Dengan Teknik Gelombang Emosi

Blog saat ini menjadi salah satu media publikasi tulisan yang digemari.

Jenisnya pun bermacam-macam. Ada berbagai konten yang menghiasi milyaran blog di internet.

Ada blog yang membahas tentang review produk elektronik, review buku, traveling, manajemen, makanan, blogging dan lain sebagainya.

Namun, banyak juga blog yang berisi konten kisah hidup yang ditulis true story maupun dalam bentuk fiksi.

Bukan hanya jenis tulisan resmi, tutorial, atau berita.

Saya sering menemukan tulisan blog yang aromanya seperti curhatan.

Hal ini sah-sah saja dituliskan di blog. Sejatinya para bloger sepenuhnya memiliki hak untuk mengisi blog pribadinya dengan konten apapun.

Termasuk curhatan pribadi. Lebih baik lagi jika tulisan tersebut dapat memberi manfaat bagi pembaca.

Semacam hikmah, inspirasi atau tips yang bermanfaat.

Nah, bagaimana sih cara menuliskan kisah hidup kita di blog agar bermanfaat buat pembaca?

Simak tips yang saya kutip dari buku Writerpreneurship karya Dwi Suwiknyo berikut ini:

Tentukan nilai atau pesan yang ingin disampaikan

Sebelum mulai menulis, tentukan nilai atau pesannya.

Nilai atau pesan yang dimaksud disini cakupannya sangat luas.

Bisa kita tentukan dari sisi nilai kesetiaan, kejujuran, kebenaran, perjuangan, kerukunan, kekeluargaan, spiritual dan lain sebagainya.

Nilai-nilai tersebut bisa kita sarikan dari pengalaman pribadi atau hasil pengamatan yang terjadi di sekitar.

Pilihlah satu nilai saja dari beberapa pilihan nilai di atas.

Fokuskan ceritamu berdasarkan nilai yang dipilih tersebut.  

Bagaimana caranya? Misal kita mau menceritakan tentang kisah saat menemukan sahabat pertama.

Dari kisah tersebut tentukan nilai atau pesan sebagai fokus bahasan yang akan kita ceritakan.

Katakanlah nilai kesetiakawanan, kebersamaan, cinta, dan lain sebagainya.

Coba sisipkan nilai kesetiakawanan sebagai pesan dalam cerita perjumpaan dengan sahabat pertama.

Jelaskan karakter kawanmu, tambahkan deskripsi tempat, dan lain sebagainya sebagai penguat.

Uraikan tentang bagaimana usahamu untuk setia kawan, bagaimana cara kalian menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi.

Ceritakan bagaimana sebuah nilai kesetiakawanan mampu menghadirkan kekuatan untuk menyelesaikan masalah yang kalian hadapi dalam hidup.

Sebenarnya masih banyak lagi situasi yang bisa diceritakan.

Silakan ekaplor seauai dengan fokus pesan yang dipilih.

Pastikan ada unsur pembangun cerita

Selanjutnya yang harus diperhatikan adalah unsur pembangun.

Unsur pembangun cerita yang dimaksud diaini seperti: unsur tokoh yang diceritakan, konflik, latar dan alur yang membangun cerita tentang pengalaman hidup yang kita ceritakan.

Keberhasilan membangun unsur cerita, akan membuat tulisan kita terasa sangat menarik untuk dinikmati.

Perhatikan betul bedanya tulisan yang menarik dengan curhatan biasa.

Pada umumnya curhatan yang biasa ditulis di blog tidak mempertimbangkan unsur pembangun cerita.

Asal ngalir aja. Yang penting apa yang mengganjal di hati bisa terungkapkan dengan baik.

Sehingga seringkali tulisan terasa alay atau kurang menggigit. Hihi…

Tahu alasannya? Karena umumnya ketika kita menuliskan curhatan, porsi emosi dalam diri kita lebih dominan dibandingkan logika berpikir.

Sehingga sering lupa pada kaidah penulisan yang sebenarnya bisa membuat karya tulisan kita jadi lebih baik.

Jadi, jangan kesampingkan kualitas tulisan kita di blog.

Jelas butuh kepercayaan diri untuk menuliskan curhatan di blog.

Beberapa orang mungkin tidak begitu percaya diri menuliskan curhatan di blog.

Apalagi terang-terangan menyebutkan bahwa kejadian itu nyata kita alami.

Takut kalau orang lain tahu kejelekan kita. Namun, ada juga orang yang cuek, atau justru sangat semangat menuliskan cerita-cerita hidupnya.

Bahkan berharap seseorang bisa mengambil hikmah dari apa yang dituliskan.

Enaknya, ketika menulis di blog lebih fleksibel. Curhatan yang kita tulis tidak harus menggamblangkan tokoh aslinya.

Bisa kita siasati dengan tokoh samaran, atau memodifikasi seolah seperti cerita fiksi.

Pada intinya, penulis harus mampu menggambarkan karakter unik si tokoh.

Sesuatu yang menjadi ciri khas, kelebihan dan kekurangan, dan segala hal yang menguatkan identitas si tokoh.

Menurut beberapa referensi yang saya baca, penguatan karakter tokoh bisa ditunjukkan melalui dialog atau penggambaran perilaku.

Bagaimana dengan konflik? Konflik bisa kita bangun dengan menghadirkan keresahan yang kita rasakan.

Atau bisa juga dengan menghadirkan tokoh lain yang sifatnya bertolak belakang.

Baik konflik batin maupun konflik eksternal tentu sangat menarik untuk dihadirkan dalam sebuah cerita.

Agar cerita yang kita tulis lebih hidup dengan berbagai dinamika yang dialami tokoh-tokohnya.

Unsur latar, merupakan gambaran lokasi dan situasi kejadian.

Jika yang diceritakan adalah masa-masa ospek, ya gambarkan suasana di sekolah.

Deskripsikan benda-benda apa saja yang ada di lingkungan sekolah.

Beberapa penulis mengatakan bahwa latar dalam sebuah cerita bukan hanya sebatas tempat kejadian.

Gambaran budaya, sosial, agama, juga politik bisa juga dijadikan sebagai latar sebuah cerita.

Jangan terjebak pada penggambaran pemandangan fisik saja.

Cobalah eksplore latar cerita dari sudut lainnya.

Latar yang kita gambarkan dalam cerita bisa menjadi penguat jalannya cerita.

Bahkan deskripsi latar yang bagus bisa memengaruhi emosi pembaca karena seolah-olah mereka merasa berada di lokasi kejadian.

Mereka terbawa dalam situasi kejadian.

Mengenai alur, yang paling mudah diikuti adalah alur maju.

Ceritakan mulai dari awal kejadian sampai peristiwa berakhir.

Jika ingin menhadirkan variasi, silakan gunakan alur mundur atau kombinasi keduanya.

Cara ketiga, menghadirkan kesan atau efek emosi dalam sebuah cerita yang kita tulis.

Buatlah para pembaca bisa merasakan sedih, marah, senang, atau yg lainnya.

“Tulisan yang baik adalah yang bisa memengaruhi emosi pembaca.” (Writerpreneurship – Dwi Suwiknyo, 2014)

Nah, mendingan langsung praktik

Salam blogger kreatif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like