Pemasaran Digital dan Contoh Penerapannya

pemasaran digital
pemasaran digital
Artikel ini semacam study kasus dari pengalaman saya ketika melakukan pemasaran digital untuk produk rumah sakit. Saya ulas lengkap beserta contoh penerapannya.

Ketika ada kabar bahwa akan ada pengurangan jam kerja dan otomatis berimbas pada pengurangan gaji, saya mulai ketar-ketir mikirin cara cari tambahan penghasilan di luar gaji.

Memang sih selama ini sudah coba freelance, merintis usaha jasa artikel SEO dan pembuatan web blog, juga belajar pemasaran digital, tapi di masa pandemi seperti ini sepertinya enggak akan banyak pemasukan dari sana.

Apalagi usaha tersebut belum lama saya jalankan, tentu akan butuh banyak effort untuk bersaing dengan penyedia jasa yang sama, yang sudah lebih dulu bermain.

Jadi saya coba cari peluang lain yang kira-kira bisa nambah penghasilan, tanpa harus menggangu pekerjaan utama saya di rumah sakit.

Oh iya, sekadar perkenalan saja, saya seorang perawat yang kerja di rumah sakit swasta di Jogja.

Kurang lebih sudah sepuluh tahun saya bekerja, dan beberapa tahun terakhir kerjaan saya lebih banyak di manajerial.

Jadi, saya ngantor setiap pagi dari jam 07.00 sampai jam 14.00, setiap hari senin sampai sabtu.

Di luar itu, saya gunakan untuk cari tambahan penghasilan melalui usaha freelance. Seringnya sih ngerjainnya malam hari dan weekday.

Banyak yang berpikir, di masa pandemi seperti saat ini bisnis rumah sakit enggak banyak terkena dampak.

Bahkan ada yang berpikir, justru pasien bakalan membludak di rumah sakit, sehingga secara bisnis bisa jadi akan banyak diuntungnya.

Nyatanya enggak seperti itu. Dari beberapa informasi yang saya dapat, hampir semua rumah sakit di Jogja pasiennya berkurang selama pandemi.

Entah apa penyebab pastinya. Dari ungkapan beberapa orang mengatakan bahwa mereka takut datang ke rumah sakit.

Ungkapan ini bukan hanya dari satu dua orang saja, melainkan saya dapatkan dari beberapa orang.

Maka, wajar jika ada salah satu rumah sakit di Jogja yang merumahkan beberapa karyawannya karena masalah ini.

Mereka coba menyeimbangkan keuangan dengan mengurangi pengeluaran, agar bisa terus beroperasional.

Sempat ada sih rasa khawatir akan terjadi hal yang sama di rumah sakit tempat saya kerja, tapi semoga saja enggak terjadi.

Karantina Wilayah di Beberapa Daerah

Sampai saat ini Jogja memang enggak menerapkan PSBB, tapi di beberapa daerah dalam lingkup desa dan kecamatan sempat menutup akses untuk warga dari luar daerah.

Saya masih ingat, karantina wilayah di beberapa daerah di Jogja ini marak saat bulan puasa Ramadhan kemarin.

Baca juga: Lockdown

Banyak akses jalan menuju desa atau perumahan-perumahan dibuat portal dan pos penjagaan.

Masing-masing daerah membuat jadwal ronda atau jaga yang melibatkan pemuda dan warga setempat.

Perumahan tempat saya tinggal adalah salah satu daerah yang menerapkan katantina wilayah.

Meski tak seketat daerah lain, tapi tetap saja ada pembatasan akses masuk warga dari daerah lain, atau sebaliknya warga perumahan yang pergi ke daerah lain tanpa sepengetahuan ketua RT.

Hal ini membuat aktivitas warga jadi terbatas, kecuali beberapa warga yang memang harus pergi ngantor seperti saya.

Saya tetap bisa pergi ke kantor, tapi dengan catatan membatasi diri berinteraksi dengan warga setempat.

Tahu sendiri ya, gimana pandangan orang saat ini ke orang-orang yang kerja di rumah sakit?

Sebelum ada orang yang mengucilkan saya, maka saya mencoba menjaga jarak dengan warga. Meski sejauh ini saya merasa enggak ada pengucilan terhadap diri saya dan keluarga.

Jadi, selama bulan puasa kemaren saya merasa enggak bisa bebas berinteraksi dengan teman-teman di luar sana seperti biasa.

Biasanya sering ngumpul di cafe, ngobrolin proyek bareng yang bisa dikerjain. Sekarang, hanya bisa komunikasi via WhatsApp.

Parahnya lagi, teman-teman saya juga lagi sepi proyek. Jadi, saya harus cari jalan lain untuk dapetin tambahan penghasilan.

Masalah di Perusahaan Akibat Pandemi

Awal tahun 2020 saya diminta bantu tim pemasaran dan promkes rumah sakit. Sepertinya karena pihak manajemen mengamati aktivitas saya di media sosial dan skill desain grafis yang saya miliki.

pemasaran digital
Sumber: pixabay

Kebetulan juga akhir tahun 2019 ada staf pemasaran yang resign, dan sepertinya belum ada rencana penambahan karyawan di tahun 2020.

Maka, manajemen memutuskan untuk melibatkan saya di tim pemasaran dan promkes. Jadi, saya dobel job sebagai auditor internal dan tim marketing promkes.

Di masa pandemi ini mau enggak mau rumah sakit harus mengubah strategi pemasaran.

Kalau selama ini lebih banyak pasif dan bergerak melalui kegiatan sosial sebagai bagian dari pemasaran rumah sakit, maka saat ini harus banyak bergerak di pemasaran digital.

Apalagi setelah digaungkannya istilah new normal, yang mau enggak mau bisnis rumah sakit pun harus punya strategi untuk beradaptasi dengan kondisi saat ini.

Pelan-pelan layanan kesehatan mulai bergerak menuju layanan telemedicine.

Sebagaimana yang kita tahu bahwa layanan ini merupakan sesuatu yang baru bagi bisnis rumah sakit yang selama ini lebih banyak berhubungan langsung dengan pasien.

Namun, enggak ada pilihan lain. Jika mau bertahan, rumah sakit harus bisa beradaptasi dengan menerapkan sistem layanan baru tersebut.

Tim pemasaran dalam hal ini punya pekerjaan rumah yang cukup berat dalam meningkatkan jumlah kunjungan pasien ke rumah sakit.

Belum lagi mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa, rumah sakit adalah tempat yang aman untuk dikunjungi.

Jelas hal ini bukan pekerjaan mudah bagi tim marketing. Mau enggak mau, saya dan teman-teman di tim marketing harus lebih intensif bergerak memasarkan jasa layanan rumah sakit.

Langkah Awal Memulai Pergerakan Dalam Pemasaran Digital

Data penurunan jumlah pasien mulai terlihat di bulan April. Maka, menjelang awal bulan Mei pergerakan tim pemasaran mulai diintensifkan.

Kami berempat membagi tugas dan mencoba membuat rencana upaya pemasaran.

Saya sebagai orang baru dalam tim, merasa harus bisa memberi sesuatu yang lebih, terutama berkaitan dengan skill yang saya punyai.

Saat itu saya melihat bahwa upaya pemasaran digital melalui media sosial belum begitu optimal.

Saya menemukan ada beberapa poin yang menurut saya masih perlu dimaksimalkan, antara lain:

  1. Ada akun Facebook, tapi belum memanfaatkan Fanspage Facebook sebagai media pemasaran.
  2. Ada akun YouTube, namun selama setahun terakhir tidak pernah update konten.
  3. Belum memaksimalkan fitur Google My Business dan belum dikelola dengan baik.
  4. Memiliki akun Instagram, tapi engagement rate rata-rata dibawah 0,6%.
  5. Memiliki nomor WhatsApp, tapi belum memanfaatkan WhatsApp marketing.
  6. Ada website rumah sakit, tapi perlu beberapa perbaikan terutama untuk penampilan mobile.

Dari beberapa masalah yang ditemukan tersebut, saya kemudian mengusulkan beberapa hal untuk dieksekusi manajemen.

Terutama untuk memaksimalkan upaya pemasaran digital. Kebetulan dari keempat orang tim marketing, saya termasuk orang yang paling paham soal digital marketing.

Meskipun selama ini saya belajar digital marketing secara otodidak, hehe.

Strategi Pemasaran Digital Sebagai Langkah Penyelesaian Masalah

Kami membagi tugas progam pemasaran kepada empat orang tim. Satu orang sebagai koordinator program, dan tiga orang lainnya sebagai pelaksana.

Tim pelaksana ini pun dispesifikkan lagi tugasnya sesuai dengan kecenderungan skill masing-masing.

Baca juga: Pengertian Komunikasi

Satu orang teman saya mendapat tugas personal selling ke eksternal, dan satu orang lain fokus ke personal selling internal. Sedangkan saya sebagai orang baru fokus di pemasaran digital.

Secara rinci, strategi pemasaran digital yang kami jalankan meliputi:

Personal Selling Eksternal

Personal selling eksternal ini lebih spesifik menghandel program pemasaran yang berkaitan dengan pihak di luar rumah sakit.

Seperti hubungan dengan fasilitas pemberi kesehatan pihak pertama, organisasi masyarakat, hingga ke pelanggan atau pasien yang pernah berkunjung ke rumah sakit.

Tugasnya ya berkomunikasi dengan mereka, menginformasikan update layanan rumah sakit secara rutin, dan mengelola kegiatan bakti sosial.

Selama ini teman saya ini lebih banyak keliling dan berkunjung ke puskesmas, dokter praktek, bidan praktek, dan lain sebagainya.

Sedangkan selama pandemi, nyaris kunjungan ini enggak bisa dilakukan dan harus beralih ke komunikasi jarak jauh.

Tentu saja kami harus melakukan penyesuaian terhadap pola pemasaran yang baru ini.

Personal Selling Internal

Personal selling internal ini lebih fokus menghandel tugas-tugas promotif di dalam libgkungan rumah sakit.

Seperti berhubungan dengan dokter, karyawan, pasien dan pengunjung yang ada di rumah sakit, dan monitoring fasilitas pemasaran di lingkungan rumah sakit.

Selama pandemi, rutinitas teman saya yang melakukan personal selling ini hampir enggak banyak yang berubah. Hanya saja intensitasnya untuk terjun ke lapangan agak berkurang.

Sebelum saya bergabung di tim pemasaran, teman saya inilah yang menghandel media sosial rumah sakit.

Sehingga selain melakukan personal selling internal, dia juga mengelola media sosial rumah sakit.

Jadi, wajar kalau selama ini pemasaran digital melalui digitalnya kurang maksimal. Karena tugas personal selling internal saja sudah begitu berat, apalagi ditambah mengelola media sosial, dan dia sendirian menghandelnya.

Contoh Pemasaran Digital

Ketika saya bergabung di tim pemasaran, harapannya memang bisa memaksimalkan upaya pemasaran digital. Sebelum pandemi muncul, sebenarnya rumah sakit sudah ada rencana untuk memaksimalkan pemasaran digital.

Hanya saja belum bisa dijalankan karena belum punya tim yang kompeten melaksanakannya. Meskipun sebenarnya pemasaran digital ini memang belum menjadi prioritas utama kegiatan pemasaran rumah sakit (sebelum pandemi).

Ketika pandemi datang, mau enggak mau rumah sakit harus mengubah strategi pemasaran.

Rencana awal memprioritaskan personal selling internal dan eksternal, akhirnya berubah prioritasnya ke pemasaran digital.

Sebagai orang baru di tim pemasaran, saya coba menawarkan beberapa solusi terkait optimalisasi pemasaran digital. Alhamdulillah, saya diberi lampu hijau untuk eksekusi.

pemasaran digital
Sumber: pixabay

Saya kemudian mencoba melakukan beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai contoh pemasaran digital, antara lain:

Optimalisasi Fanspage Facebook

Selama ini rumah sakit sudah memiliki akun Facebook, tapi belum memaksimalkan fitur Fanspage sebagai alat pemasaran.

Update informasi hanya dilakukan melalui akun personal yang kita tahu susah diukur statistik insight-nya.

Maka saya buatkan Fanspage dan mengubah alur update informasi di Facebook. Kalau selama ini informasi pemasaran langsung di-posting di beranda akun personal, sekarang saya ubah harus di-posting di Fanspage dulu kemudian di-share di beranda akun personal.

Beberapa optimalisasi Fanspage yang saya lakukan antara lain:

  1. Melengkapi deskripsi profile dengan informasi yang valid tentang rumah sakit.
  2. Menghubungkan Fanspage dengan akun Instagram, WhatsApp, Messenger, dan website rumah sakit.
  3. Mengaktifkan fitur chat WhatsApp.
  4. Monitoring statistik insight untuk memantau engagement rate.
  5. Menggunakan Facebook Ads untuk promosi produk-produk rumah sakit.

Sampai saat upaya pemasaran melalui Facebook masih terus dilakukan. Alhamdulillah meski belum banyak, ada juga calon customer yang berinteraksi melalui Mesenger dan WhatsApp yang awalnya mengetahui informasi dari Fanspage Facebook.

YouTube Marketing

Dari data riset terkait pengguna media sosial, yang saya tahu proporsi paling besar adalah pengguna YouTube.

Data inilah yang saya jadikan dasar usulan ke manajemen untuk melakukan pemasaran melalui YouTube.

Alhamdulillah disetujui, dan pengajuan kamera mirrorless saya di acc sebagai alat perang membuat konten YouTube.

Saya pun nekat memaksimalkan YouTube untuk pemasaran produk rumah sakit, meskipun saya bukanlah youtuber berpengalaman.

Setidaknya saya berusaha mengoptimalkan YouTube agar lebih manfaat untuk rumah sakit.

Apa yang saya lakukan dengan YouTube rumah sakit?

  1. Rebranding channel YouTube rumah sakit, yang semula menggunakan nama NH Media saya ubah menjadi channel RS Nur Hidayah Bantul.
  2. Melengkapi profile YouTube dengan informasi valid tentang rumah sakit.
  3. Menghubungkan channel YouTube dengan akun media sosial dan website rumah sakit.
  4. Membuat konten edukatif dan promotif, seperti edukasi kesehatan, dokumentasi kegiatan rumah sakit, tauziah keislaman, tutorial, dan film singkat yang berlatar belakang rumah sakit.
  5. Menyematkan running text pada beberapa video panjang yang berisi iklan layanan dan edukasi tentang kesehatan.
  6. Memperbaiki tampilan thumbnail atau cover video yang diupload.
  7. Monitoring statistik YouTube.
  8. Merespon komentar pengunjung di channel YouTube rumah sakit.

Jumlah subscriber di bulan Februari sekitar 95, dan sekarang naik menjadi 280. Meski agak sulit memastikan jumlah customer rumah sakit yang berasal dari informasi di YouTube, tapi sejauh ini informasi video dari YouTube cukup efektif untuk mengedukasi masyarakat dan juga SDM rumah sakit.

Karena bagi saya pribadi, target pemasaran rumah sakit bukanlah sebatas pada calon pasien saja. Melainkan juga instansi, masyarakat sehat, dan juga SDM internal di rumah sakit itu sendiri.

Optimalisasi Google My Business

Begitu saya gabung tim pemasaran, memaksimalkan Google My Business (GMB) adalah salah prioritas dalam pemasaran digital yang saya rencanakan.

Karena apa? Karena target produk rumah sakit utamanya adalah bersifat lokal.

Sasaran utamanya adalah masyarakat yang tinggal di Jogja dan sekitarnya. Saya meyakini apa yang kita posting di GMB peluang viewnya lebih banyak dibanding website atau media sosial lainnya.

Hal ini terbukti dari jumlah view beberapa postingan foto yang saya unggah di GMB yang dalam hitungan hari saja bisa ratusan view. Dan, semakin lama jumlah view terus meningkat.

Banyak foto yang dalam sebulan viewnya sudah ribuan. Padahal di GMB ini customer pun bisa mengupload foto terkait produk kita dan memiliki potensi vew yang sama.

Secara rinci, inilah yang saya lakukan dengan akun GMB rumah sakit:

  1. Memperbaiki foto profile dan cover akun GMB.
  2. Melengkapi deskripsi profil dengan informasi tentang rumah sakit dan nomor kontak yang bisa dihubungi.
  3. Menambahkan daftar produk layanan yang ada di rumah sakit.
  4. Menambahkan foto produk dan info tawaran secara berkala.
  5. Melakukan verifikasi dan klaim akun GMB.
  6. Menanggapi review (positif dan komplain) dengan baik.
  7. Merespon pesan dari pelanggan.
  8. Memantau insight GMB.

Saat ini rating GMB rumah sakit menunjukkan angka rata-rata 3,9 bintang. Sering juga customer yang mengirim pesan menanyakan tentang produk layanan rumah sakit dan mendaftar.

Sampai sekarang, saya masih meyakini bahwa fitur GMB bisa diefektifkan untuk pemasaran digital rumah sakit.

Optimalisasi Instagram

Instagram saat ini jadi media sosial yang paling digemari. Baik untuk sekadar eksis, maupun untuk kepentingan bisnis.

Selama ini instagram rumah sakit sekadar digunakan untuk share informasi jadwal dokter, dan promosi lainnya terkait produk rumah sakit. Namun, belum memikirkan upaya optimasi untuk tujuan marketing.

Beberapa hal yang saya lakukan untuk optimasi Instagram rumah sakit, antara lain:

  1. Melengkapi deskripsi profile dengan informasi layanan rumah sakit.
  2. Membuat thumbnail untuk sorotan agar lebih rapi dan menarik untuk dilihat.
  3. Menghubungkan akun Instagram dengan Fanspage Facebook.
  4. Merapikan tampilan feed Instagram dengan template postingan yang seragam tiap bulan.
  5. Membuat konsep konten harian untuk feed dan story Instagram.
  6. Melakukan riset hastag untuk postingan Instagram.
  7. Memantau statistik insight setiap secara periodik.

Hingga saat ini tercatat rata-rata ada penambahan 3-7 follower setiap hari. Sementara tingkat engagement masih perlu ditingkatkan lagi.

Alhamdulillah, interaksi calon customer melalui DM (direct message) selalu ada. Memang belum banyak, tapi sudah ada peningkatan jumlah interaksi melalui DM.

WhatsApp Marketing

Saat ini sebagian besar orang di Indonesia banyak yang menggunakan WhatsApp sebagai alat komunikasi.

Rasanya sayang sekalai kalau enggak kita manfaatkan aplikasi WhatsApp untuk kegiatan marketing.

Di awal mejalankan WhatsApp marketing, saya coba menggunakan aplikasi untuk broadcast pesan WhatsApp.

Kebetulan untuk databased nomor handphone, sudah ada ribuak kontak pasien yang pernah berkunjung ke rumah sakit.

Tiga kali mencoba menggunakan aplikasi broadcast, ternyata kurang efektif. Baru jalan puluhan kontak saja, nomor telepon langsubg diblokir oleh WhatsApp.

Sehingga saya coba pakai cara lain untuk mengoptimalkan WhatsApp dalam kegiatan marketing rumah sakit.

  1. Mengganti aplikasi WhatsApp biasa dengan WhatsApp Business.
  2. Melengkapi profile WhatsApp business.
  3. Menambahkan katalog produk layanan rumah sakit.
  4. Membuat greeting message dengan menambahkan link menuju katalog produk.
  5. Membuat quick text dengan beberapa jawaban atas pertanyaan yang sering diajukan calon customer.
  6. Mengirim pesan secara manual ke ratusan nomor kontak pengunjung rumah sakit secara rutin, dengan melampirkan link katalog produk.
  7. Melakukan follow up customer rumah sakit yang menghubungi melalui WhatsApp.
  8. Monggunakan label untuk menandai setiap kontak yang berinteraksi di WhatsApp.
  9. Monitoring efektifitas WhatsApp marketing melalui jumlah label tiap bulannya.

Alhamdulillah, hingga saat ini setiap hari selalu ada customer yang mendaftar untuk periksa atau berinteraksi menanyakan informasi layanan.

Jadi, selain nomor admisi yang menghandel pendaftaran pasien, kita memiliki nomor lain sebagai alat untuk marketing sekaligus membantu pendaftaran.

Perbaikan Tampilan Website

Website juga menjadi salah satu target yang hendak saya pakai untuk pemasaran produk layanan rumah sakit. Namun, untuk prioritasnya memang bukan yang pertama.

Mengingat zaman sekarang orang lebih familiar menggunakan media sosial daripada website. Apalagi kalau melihat sebagian besar karakteristik pelanggan.

Rumah sakit sudah memiliki website, tapi ketika saya audit ternyata ada banyak hal yang harus diperbaiki.

Maka dari itu, saya coba mengajukan konsep perubahan tampilan website rumah sakit.

Namun, untuk pengerjaannya memang perlu kolaborasi dengan tim IT rumah sakit.

Sekarang masih dalam proses pengerjaan, semoga dalam waktu dekat sudah bisa launching, ya?

Usaha Cari Tambahan Penghasilan

Apakah dengan tambahan pekerjaan yang sedemikian rupa, saya mendapat tambahan penghasilan dari kantor?

Baca juga: Pengertian Akutansi

Ada tambahan penghasilan dari kantor, tapi kalau dibandingkan dengan yang saya dapat dari freelance, ya jelas enggak seberapa.

Padahal tambahan pekerjaan ini banyak mengorbankan job freelance. Mau bagaimana lagi? Saya merasa harus memprioritaskan pekerjaan kantor.

Meski akun media sosial saya terbengkalai, website personal saya jarang update, tetap harus dijalani.

Di awal-awal memang menguras banyak waktu. Setelah jalan beberapa bulan sepertinya mulai bisa membagi waktu.

Harapan saya, selain bisa mengelola pekerjaan kantor, tetap punya waktu menjalani kerjaan freelance saya.

Mengelola media sosial saya sendiri, mengupdate konten personal website, membuat konten YouTube, dan aktivitas lain yang menjadi passion saya.

Sekarang, saya coba mengembangkan usaha produksi film pendek dan konten kreatif bersama Indra Production.

Alhamdulillah, meski jarang ada proyek, tapi setiap dapat proyek biasanya nilainya cukup lumayan.

Lomba bikin film pendek, kerjasama dengan beberapa komunitas untuk membuat konten, jadi salah satu alternatif untuk mencari tambahan penghasilan.

Tentu saja tetap terus belajar pemasaran digital dan sekalian refreshing agar tetap waras, ya? [SNs]

22 comments
  1. Saya sangat menikmati tulisan-tulisannya mas Seno, daging semua. Apalagi tentang ilmu yang mahal, Marketing Digital yang notabene sekarang sedang hangat-hangatnya.

  2. Nah bener nih mas. Di era sekarang kayaknya kita emang harus nguatin skill di bidang digital ya. Soalnya emang itu yang dibutuhin sama customer sih. Semangat Mas.. smoga pandemi ini segera berlalu. Amin

  3. Di era digital ini sebenarnya emang sudah seharusnya sistem pemasaran digital dilakukan. Apalagi dimasa pandemi begini, dimana orang-orang melakukan aktivitas dari rumah jadi butuh sesuatu yang bisa di akses dari rumah. baik itu dari whatsAppa, instagram, website dan lainnya

  4. Dari berbagai teori dan tips, yg penting adalah jalankan hehehe. Karena saya liat banyak yg gak mulai2 ya
    Apalagi teoti dan tips dah dapat, jd tinggal eksyen nya lagi nih
    Btw tq pencerahannya ๐Ÿ™๐Ÿ˜€

  5. Nantinya semua akan menjadi serba daring ya. Sehingga marketing lewat marketing digital

  6. Bener banget kalo masa awal pandemi orang2 berusaha menunda datang ke RS. Sy juga menunda imunisasi. Jadi memang sistem pemasaran digital diperlukan untuk membangun kepercayaan lagi kepada RS.

  7. Situasi pandemi membuat kita menjadi lebih kreatif ya mas, jadi memanfaatkan semua platform untuk memaksimalkan usaha. Semoga pandemi ini segera berakhir. Tapi jujur mas, saya pribadi emang bener takut mau ke RS meski sakit.Hihi, parno akut.

  8. Yang belum maksimal optimalisasi google business. Katanya memang bagus untuk branding. Ini jalanin bisnis aja masih setengah2 huhu. Mudah-mudahan bisa optimalisasi semua deh nanti

  9. wah bener kak, saat pandemi gini org2 jadi parno ke rumkit… akhirnya pd ngobati penyakitnya pake ilmu kira2 deh …nah dng adanya oemasaran digital layanan rumkit melalui kanal medsos semoga bisa membuka wawasan ya klo rumkit itu bkn sesuatu yg hrs diparnoi

  10. ternyata rumah sakit pun terdampak juga dengan adanya pandemi ini. Iya sih, banyak orang yang jadi takut dan ragu-ragu kalau mau periksa ke rumah sakit.

    Tips pemasaran digitalnya bisa ditiru nih, ntar saya forward link tulisan ini ke bagian humas kantor saya

  11. Wah ternyata di musim begini rumah sakit bisa merugi juga ya kak? Iya sih jujur saya sekeluarga juga takut ke rs. Kalaupun sakit ya ditahanin a tau minum boat seadanya

  12. Bener bgt nih kak seno, aku aja hanya iseng masarin usaha bapak di dunia digital sudah 3 tahun ini banyak yg โ€œmenemukan โ€ kami dr GMB loh hehhe

  13. Wah kak seno ilmu digital marketingnya udah banyak ya, aku masih belum nie facebook ads, google my bisnis keren deh mas , semoga rumah sakitnya juga bisa lebih ke digitalisasi ya , karena masih takut ke rumah sakit.

  14. Semua bakal digital pada waktunya emang. Kayaknya semua orang mesti belajar pemasaran digital asap sih, suka enggak suka. Karena emang ke depannya bakal sangat bermanfaat

  15. Setuju Mas Seno… zaman pandemi seperti ini penting banged mengoptimalisasi media-media sosial seperti IG, YT, Twitter dan FB ya. Eh btw RS sepi lantaran orang2 pd takut lho Mas ke RS. Sebisa mungkin mengobati di rumah dan lebih penting pencegahannya

  16. kesimpulannya usaha cari tambahan penghasilan adalah dengan bikin konyten youtube ya mas… dengan share ke sosmed sebagai sarana marketing dgitalnya. Gitu ya… he he

  17. setuju banget nih, disaat kayak gini kita harus pandai memanfaatkan keadaan supaya bisa tetap berpenghasilan. salah satunya ya dengan memaksimalkan media sosial yang dimiliki.

Leave a Reply

You May Also Like
pengertian komunikasi
Read More

Pengertian Komunikasi

Kita akan coba mengupas secara detail mengenai pengertian komunikasi dan hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi di artikel ini.
pengertian akutansi
Read More

Pengertian Akutansi

Biasanya orang tuh langsung pusing kalau dengar akutansi. Di artikel ini dijabarkan mengenai pengertian akutansi yang mudah dipahami.