Asalamualaikum, Gaes….

Terima kasih sudah berkenan nimbrung di grup sederhana ini. Grup ini bukan kelas ekspert yang biasanya dikenai tarif mahal kepada para pesertanya. Tujuan awal bikin grup ini sih, pengin sekadar sharing aja. Siapa tahu ada yang bisa ngambil manfaatnya.

Maka, sebelumnya saya minta maaf jika nantinya apa yang saya share ternyata berasa receh buat teman-teman. Saya yakin, teman-teman di sini sudah banyak yang lebih jago dari saya. Namun, semoga yang receh dari saya ini bisa melengkapi yang ada pada diri teman-teman.

Saya ingin mengawali sharing ini dengan curcol boleh ya? ?

Entah ini hanya perasaan saya pribadi atau juga dirasakan oleh orang lain. Ketika menulis untuk website orang lain, katakanlah ada bayarannya, kok rasanya lebih semangat dibanding menulis di blog atau website sendiri. ?

Ini fakta, terbukti dengan lebih banyaknya tulisan saya di website orang lain ketimbang yang saya posting di website sendiri. Padahal nih, pemilik website itu rela bayar mahal para penulis untuk mengisi konten di websitenya, karena paham betul bahwa mereka sedang berinvestasi. Iya, karena mereka memiliki keterbatasan untuk membuat konten yang bagus.

Anehnya, kenapa kita yang bisa nulis, yang bisa bikin konten bagus, justru kurang produktif posting di website sendiri? Enggak perlu dijawab ya??

Sudah jelas faktor “U” berperan besar di sini. Penulis kan juga butuh kopi, pulsa, camilan, dan kebutuhan isi perut lainnya. Maka wajar kalau lebih semangat mengerjakan proyek dari orang lain, ketimbang mengurus konten blognya sendiri.

Justru peluang ini telah menciptakan lapangan kerja baru, lahan mendapat penghasilan di luar pekerjaan utama. Karena menulis bisa dikerjakan di luar jam kerja kantoran, atau di luar kesibukan rumah tangga.

Potensi Penghasilan Penulis Konten Website

Ok, mungkin teman-teman bertanya dalam hati, “Emang berapa sih duit yang bisa didapet dari nulis konten?” ?
Pernah saya merasa penasaran, kenapa banyak teman yang memilih resign dari kantor dan jadi full time bloger? Padahal kan kalau melihat penghasilan bloger yang segitu-gitu aja. Memang ada yang dapet jutaan, tapi kan mereka sudah lama membangun branding blog mereka.

Di suatu acara Blogger Gathering, pertanyaan itu terjawab. Ternyata banyak teman-teman bloger yang mendapat kontrak sebagai penulis konten dengan total nilai rupiah jutaan perbulan. Ada yang dihargai pertulisan 500 ribu, bahkan ada yang pernah mendapat kontrak pertulisan dihargai jutaan. Rasanya sulit mempercayai ini, tapi ini realita.

Karena setelah pertemuan itu saya ditawari kontrak penulisan dari sebuah perusahaan webhosting. Memang nilainya enggak begitus besar jika dibanding dengan teman-teman full time bloger, tapi lumayan. Fee satu artikel bisa saya pakai buat bayar langganan indihome sebulan. Alhamdulillah ?

Lumayanlah buat ukuran karyawan swasta kek saya yang dari senin sampe sabtu masuk kerja. Bisanya ngerjain pesanan artikel pas di waktu malam hari aja.

Ini baru dari satu kontrak kerja sama ya, Gaes. Bayangkan kalau kita bisa kerjasama dengan beberapa perusahaan atau website. Ya, tinggal dihitung saja berapa rupiah yang masuk rekening kita tiap bulan.

Tapi jangan senang dulu, Gaes. Pencapaian itu bukan diraih dengan mudah, enggak segampang membalikkan telapak tangan. Ada proses belajar yang harus dilalui. Saya aja mulai benar-benar niat belajar nulis sejak tahun 2014. Namun, bukan berarti teman-teman harus melalui periode selama itu untuk bisa mendapat penghasilan dari menulis konten. Kan, rezeki sudah ada yang ngatur.

Menulis Konten Website Itu Tidak Sulit

Setelah saya amati, ternyata menulis konten website itu enggak sesulit yang dulu saya bayangkan. Bisa dibilang, sebenarnya banyak konten website yang ditulis dengan metode REWRITE dari tulisan-tulisan yang sudah ada sebelumnya. Kok bisa? Hehe.

Di lain kesempatan insyaallah akan kita kupas tentang ini ya? Sebelum ke sana saya ingin sampaikan beberapa cara yang sering dipakai untuk menulis konten website. Ini saya sarikan dari hasil pengamatan ya, jadi mungkin saja berbeda dengan teori-teori yang teman-teman baca.

Terus terang, saya lebih suka belajar dengan cara mengamati daripada mempelajari banyak teori. Karena dunia teknologi ini lajunya pesat banget. Bisa jadi teori yang kita baca dari buku terbitan tahun kemarin, saat ini ada beberapa bagian isinya yang sudah enggak relevan lagi. Iya, makanya banyak para praktisi internet marketing menyarankan untuk rajin-rajin riset dan praktek. Mengembangkan diri dari hal-hal yang kita amati.

Apa saja cara-cara atau teknik yang sering dipakai untuk menulis konten?

  1. Auto Generate Content (AGC)
  2. Rewrite
  3. Copywriting
  4. Ulasan/ Review
  5. Listicle

Apakah masih ada cara lainnya? Masih, dong…. Kita akan fokus di 5 itu, tapi yang nomer 1 enggak akan banyak saya bahas. Karena hampir enggak pernah saya pakai.

Untuk detailnya, kita akan bahas di pertemuan berikutnya ya? Hehe. Setelah ini silakan renungkan, apakah menjadi penulis konten itu sesuai dengan pilihan hati teman-teman.

Noted: materi ini pernah disampaikan di grup WhatsApp Nulis Konten tanggal 21 April 2019 oleh pemateri Seno Ns.